Bagaimana rasanya?
Pagi itu, kembali hiruk-pikuk perkumpulan ibu-ibu didapur, anak-anak kecil mondar-mandir menyusun tumpukan piring dimeja depan. didepan orang yang sedari kecil aku kenal sedang menyusun deretan kursi plastik dibawah terpal biru.
Hari kedua, aku bingung. kedatanganku seperti sebuah kesalahan. bahwasannya berbicara padaku merupakan alasan bagi wanita ini untuk menangis lagi.
berikutnya, aku harus menguatkan diri tentang kabar-kabar burung tentang perginya dia. bahwa sebelumnya juga aku harus lebih kuat dengan ucapan turut berduka cita yang dialamatkan padaku.
Bagaimana rasanya? Jika kau bertanya ini.
Maka membaca setiap rentetan doa dan ucapan berduka cita selalu membuatku terbangun dari sugestiku sendiri bahwa ini hanya seperti kumpulan mimpi dari tidur-tidur lelahku. aku merasa tertampar.
Lalu? Bagaimana bisa aku lupa tentang bayangan yang hampir selalu ada disetiap sel-sel otakku.
Bagaimana kita tidak akan mengingat sesuatu jika sedang menyusuri jalan yang sama diwaktu yang berbeda? Apalagi dengan terbitan koran yang mengandung berita sama berulang-ulang? Atau orang yang berdatangan yg selalu bertanya kronologisnya? Atau ketika tatapan-tatapan sendu-kasihan orang menyentuh mata kita?
Hal yang terberat adalah mengikhlaskan kepergian, mengikhlaskan opini orang tentang kronologisnya, harus membisu disetiap kejanggalan.
Bagaimanapun apa ini rasanya ketika mengikhlaskan kebahagiaan orang saat bertemu dengan pencipta-Nya?
Jika yang terakhir benar. maka aku bahagia.